Thursday, May 7, 2015

The Bridge is Falling

Judul ini diambil dari lagu sebuah duo musisi berkualitas yang bernama SOVA yang berkolaborasi sama Marcell Siahaan waktu itu.

Liriknya gini:
Do you realize the bridge is falling down
Yet them people just stare ain't doing right
You guys can try to help try to work it out
And all we have to do is just put a little hope

So have you ever felt like you're watching something is going to break down or falling down?
Have you ever felt like you have tried to help it out as much as you can?
Or maybe you are that one who were just staring and ain't doing nothing?

Whichever it is, i am not going to judge you.

Tapi akan sangat menyebalkan kalo yang terjadi adalah dimana kamu memulai membangun sesuatu dan kamu tau kamu melakukannya dengan sangat baik bahkan membuahkan sebuah hasil yang sangat signifikan, kemudian orang-orang di sekitar kamu yang tadinya hanya melihat dan tidak melakukan apapun tiba-tiba berebut untuk ikut dalam kegiatan tersebut dan bukannya membantu tapi malah menghancurkannya pelan-pelan.

That kind of shit happens in life.

Ketika kamu membangun sesuatu, kamu tau bukan cuma tenaga yang kamu curahkan di situ.
Ada harapan, impian, keringat, doa dan juga berbagai macam pahit dan manisnya proses.

Ibaratkan ada sebuah jembatan yang sangat berguna dan terlihat indah di dekat rumahmu.
Tempat kamu bermain.
Tempat kamu menyeberang untuk pergi ke tempat tujuan kamu.
Tempat kamu bertemu dengan teman-temanmu.
Tempat kamu bertemu dengan si dia pujaanmu.

Jembatan yang tanpa kamu sadari sudah jadi bagian dari kehidupanmu.

Jembatan itu sudah mulai rapuh.
Tidak ada yang melakukan apapun.
Hanya bisa mengeluh dan membetulkan jembatan itu seperlunya.
Hanya agar bisa mereka lewati sendiri.

Cuma kamu yang benar-benar mau melakukan sesuatu.
Cuma kamu yang membangunnya kembali dengan niat setulus hati.
Cuma kamu yang bisa menggerakkan teman-teman kamu untuk sedikit demi sedikit membetulkan bagian-bagian penting dari jembatan itu.

Proses itu kamu jalani dari mulai melakukannya sendiri sampai kamu dapat bantuan dari sana sini.
Bantuan dan rasa hormat yang datang dari orang-orang di luar lingkunganmu karena mereka tau apa yang sudah kamu lakukan untuk itu.

Sampai akhirnya jembatan itu sudah 85% indah dan berfungsi kembali.
Tinggal sedikit lagi hingga akhirnya jembatan itu menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tinggal sedikit lagi impian kamu terpenuhi.

Di saat itu pun mereka yang tadinya tidak peduli mulai masuk ke dalam mimpi-mimpimu.
Bukan untuk membuatnya jadi lebih indah.
Untuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang yang menaruh hormat padamu.
Untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Untuk gengsi.
Basi...

Kamu tetap berjuang untuk menyelesaikan 15% proses yang masih tersisa.
"15% lagi... I gotta do it!" katamu.
It's getting harder than you thought it would be.
Yes! Because those greedy people take over your place and think they know better than you and can do better than you.

Semua yang telah kamu bangun, seketika menjadi semua yang kita bangun.
Semua masalah yang belum terselesaikan, seketika menjadi semua masalah kamu yang mereka tidak mau tahu.
Sayangnya, banyak kejadian seperti ini dalam hidup.

So what should we do?
The bridge is falling down.
Are we going to do something?
Or are just going to leave the shit and move on?

Monday, March 30, 2015

Life is a Business

Hi There!

It always feels so good to write the "hi there" part :)
Coz it means i have time to write something on my blog.

No...
It doesn't mean i am that busy
It just means i am that lazy or (sadly) moody.

And yes...
Whenever i am not lazy or moody, that means i am working.

Capek juga ngga sih baca tulisan bahasa Inggris terus?
Bukan sok keren, tapi emang kadang bahasa Inggris lebih ngasih kesan menyenangkan atau simply lebih enak dibaca daripada bikin tulisan panjang yang ngga penting gini pake bahasa Indonesia.

Dan dalam hal kerjaan, semakin kesini semakin sering saya denger orang-orang lebih nyaman berkomunikasi dengan bahasa Inggris. 
Apalagi kalo nulis email resmi.
Coba deh tulis email formal pake bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, pasti enakan pereus pake bahasa Inggris.

Ngomongin kerjaan, mungkin saya adalah orang yang percaya atau se-ngga-nya berteori kalo hidup di Jakarta sekarang ini, semua aspek adalah bisnis.

Dari saya kecil, yaa ngga kecil amat sih... SMA lah...
Saya punya pandangan hidup kalo manusia itu berteman berdasarkan kebutuhan.
Banyak banget temen saya yang protes waktu saya ngomong gitu.
Biasalah... tipikal orang kita.
Belom jelas maksudnya apa, ngomel duluan aja yang penting.

Kenapa saya bisa mikir kaya gitu?
Entah kamu setuju atau ngga, itu pilihan kamu.
Tapi gini penjelasannya.
Kita pasti pernah belajar kalo dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial.
Makhluk yang ngga bisa hidup tanpa makhluk lain atau sesamanya.

Di jaman Nabi Adam turun sebagai manusia pertama, Beliau pun memohon kepada Allah SWT untuk diberikan pendamping atau teman hidupnya.
Bukti kalo manusia emang ngga bisa sendirian.

Kita juga pasti pernah diajarin kalo sebelum ada uang, manusia menuhin kebutuhan hidupnya dengan berburu kemudian masuk ke jaman barter.
Manusia yang satu butuh manusia lainnya untuk bisa saling barter.

Saya punya cuka, kamu punya mangga.
Sayanya suka, kamunya ngga.
*krik* *krik*

Saya punya teh dan garam tapi ngga punya gula. Kamu punya gula tapi ngga punya garam.
Saya barter garam saya sama gula yang kamu punya.
Saya dapet yang saya butuhin, kamu dapet yang kamu butuhin.

Tapikan kebutuhan ngga sebatas barang aja toh?
Waktu kamu berteman dekat dengan seseorang, pasti ada alasan kenapa kamu bisa dekat dan nyaman sama dia.
Entah karena kamu nyambung ngobrolnya atau dia bisa bikin kamu ketawa atau dia selalu ada pas kamu susah atau seneng.
Itu semua termasuk kategori kebutuhan kan?

Emang berteman itu ngga boleh pilih-pilih. 
True!
Tapi kalo levelnya udah temen deket pasti kamu pilih.
Ini maksud dari prinsip saya kalo pertemanan itu pasti karena kebutuhan.
Kebutuhan untuk berada di lingkungan sosial
Kebutuhan untuk diterima di lingkungan sosial
Kebutuhan untuk berada dalam satu kelompok
Kebutuhan untuk diterima dalam satu kelompok
Kebutuhan untuk ngobrol
Kebutuhan untuk membantu 
Kebutuhan untuk dibantu
Kebutuhan untuk bandel
Kebutuhan untuk jadi lebih baik
Kebutuhan untuk didenger
dan kebutuhan-kebutuhan lainnya

But in my case, it's a bit different.
Setelah 27 tahun saya ngejalanin hidup, saya baru sadar satu hal.
Saya memperlakukan hidup saya seperti sebuah bisnis.
Saya suka sekali berteman dengan siapa saja dari kalangan apa pun.
Kalo kamu kenal saya, kamu bisa liat saya lagi nongkrong dan ngerokok bareng satpam atau tukang parkir. 
Besoknya kamu bisa liat saya lagi di cafe sama pemilik sebuah cafe di Jakarta.
So basically, I love everybody!
Tapi.........
Temen deket saya cuma itu-itu aja

Dengan kenal sama banyak orang dan berteman dengan mereka, saya jadi ada di situasi yang cukup unik.
Di hidup saya, ketika saya butuh apapun atau temen saya nyari apapun, saya bisa refer satu orang ke orang lain sehingga tercipta lah bisnis.

Tanpa saya sadari hidup saya adalah bisnis saya.
Kakak saya mau buka barbershop, dia cari saya.
Saya punya kenalan seorang barberman terkenal di Jakarta.
Saya kenalin dan jadilah barbershop itu.
Temen saya dapet uang, kakak saya dapet bisnis baru.

Temen saya yang lainnya lagi cari orang buat ngurusin account instagram bisnisnya.
Dia ngga begitu paham social media.
Dia cari saya, nanya saya.
Saya rekomen sahabat saya.
Cocok lah mereka.
Terjadilah bisnis.

Kalo kamu masih kuliah atau sekolah, selain kamu harus serius nyari ilmu kamu juga harus rajin main dan kenalan sama banyak orang.
Inget ya.. Cari ilmu bukan cari nilai.
Karena nanti kalo udah masuk dunia kerja, kemampuan kamu nyerap ilmu dan nyari celah ngadepin masalah itu yang kepake. Bukan nilai kamu.
Kenapa harus rajin main?
Percaya deh.
Sekarang ini di Jakarta, yang berlaku adalah rekomendasi.
Cari kerja yang bagus dan kesempatan buat diterima di kantor yang menyenangkan itu kuncinya ada di orang dalem.

Banyak HR atau perusahaan yang lebih nyaman ngambil orang yang mereka udah tau atau paling ngga, direkomendasiin sama orang dalem perusahaan itu.

It happens to me
It happens to people around me
It happens most of the time

So, in Jakarta life is indeed a business

Friday, October 3, 2014

Time is Respect

Many people say that time is money.

Hmm... True...

But i personally think that time has more value than just relating it to money, I think time is about respect.

Many people these days has lost the point of view of being on time is a part of respecting other people.
I live in Jakarta, the busiest city in Indonesia, again, they said.
Every single day people complain about the traffic madness in this city.
Every single day we have to struggle with the traffic madness and rushing with time just to be in a place that we should be at.

Yeah, it SUCKS!

But hey! You live with it everyday.
Complaining won't take you anywhere.

Some of us still have to go to school.
Some of us still have to attend an important meeting.
Some of us still have to go from a place to another place.

You know how crazy the traffic situation is in this town.

Think and find the solution for your own sake!

I see so many people who become careless about time and other people.
The culture of "ngaret" has become a habit.

"Hey, let's meet up!"
"OK! Meet me at South Jakarta"
"Alright! 7pm yes?
"7pm it is"

What you supposed to do is estimating the time that you need to be in the place that you should be at and the location that you are at currently.

The reality these days is 

"Hmm, i'll meet someone at 7pm. He/she must be late too. I better go there at 6pm so i won't have to wait"
Imagine what is gonna happen if every single person in this world think that way!
No one would meet each other and there are so many times wasted while we can use it for any valuable things that we could!

By being late or "ngaret", realize it or not, you're being disrespectful to someone who has the appointment with you.
If she/he is being on time, imagine how his/her feeling when she/he has to wait for hours.
Imagine how much time wasted.
Imagine how much money that she/he could get if she/he is working or producing or selling something.

Have you ever imagined his/her effort to be there on time just because he/she respects your time and words?

Take a look Japanese people.

They respect time and always value every single time that's ticking.
Try to make an appointment with Japanese people for business matters and being late.
Trust me, you won't get the deal!

Indonesian people always have a dream that one day Indonesia could be one of a huge developed country.

One thing that we often forget is that to be a developed country, we need to develop ourselves first.

Time is respect.
Time is an intangible thing that worth more than money.
No matter how much money that you have, it won't worth if you have no time to spend it.

It's not hard to be on time.
It's just a matter of willingness.

If you will, you can! :)

Thursday, February 13, 2014

Musik, Media dan Market

Saya beranjak dewasa dengan ketertarikan dan kecintaan saya pada musik dan media

Berapa banyak dari kalian yang lahir dan tumbuh di era TV cable belum bisa diakses semudah saat ini?

Berapa banyak dari kalian yang menikmati moment-moment me-rewind atau menekan tombol fast forward di radio hanya untuk mendengarkan lagu favorite kalian dari sebuah kaset?

Berapa banyak dari kalian yang merasakan excitement nonton MTV Indonesia cuma untuk mencari video klip band/boyband/girldband/soloist favorite kalian?

Berapa banyak dari kalian yang sampai saat ini masih nge-fans banget sama cara VJ Nadya Hutagalung, VJ Sarah Sechan dan VJ Jamie Aditya bawain program-program musik di MTV?

Kalo kalian senyum-senyum atau tiba-tiba bernostalgia setelah baca pertanyaan-pertanyaan di atas, i got to say, Guys, We are very lucky to be a part of 90's generation!

Di masa itu, stasiun TV nasional belum sebanyak sekarang.
Saya ingat sekali di masa itu hampir setiap selesai tayangan sebuah program, stasiun TV nasional akan memutarkan satu sampai dua klip musisi Indonesia.
Belum banyak iklan produk di masa itu.

Selain MTV yang tentunya menjadi sebuah channel yang mengubah hidup saya, dulu di RCTI saya adalah penggemar acara NUANSA MUSIK dan DELTA.
Program-program itu menjadi kamus berjalan saya untuk tahu klip-klip terbaru dan musik-musik berkualitas yang lagi jadi trend.

Orang tua saya pada saat itu tidak memasang parabola sehingga kami nggak bisa nikmatin channel TV international. Kalo mau nonton MTV luar, saya harus nginep di rumah bude saya.
Nggak tau kenapa, di masa itu rasanya nonton TV nasional pun udah cukup menyenangkan karena bisa tetep update lagu-lagu terbaru dari musisi dalam dan luar negeri.

Selain TV, dulu ada majalah HAI yang setia ngasih pembacanya hadiah kaset demo dari band-band berkualitas. KUBIK salah satunya waktu itu.
Radio pun belum sebanyak sekarang. 

Di saat anak-anak lain seumur saya (SD kelas 3) pada saat itu lebih senang main sepeda, nonton Kring Kring Olala atau Lenong Bocah, saya lebih senang menghabiskan waktu saya nonton TV.
Di saat orang tua saya menjadwalkan saya untuk les ngaji atau tidur siang, saya memilih untuk duduk manis di depan TV dan melihat acara-acara musik.
Di saat anak-anak lain menyanyikan lagu Joshua Suherman, saya memilih untuk membuka kaset-kaset koleksi sepupu saya dan menghafalkan lirik lagu-lagu yang pada saat itu "katanya" lagu orang dewasa.
Di saat anak-anak lain berburu komik, saya memilih untuk mengajak papa saya pergi ke Duta Suara Sabang.
Di saat anak-anak lain sedih jika komiknya hilang, saya sedih sekali jika kaset yang saya beli, sampulnya terpotong bolongan untuk case kasetnya karena lirik lagunya jadi hilang sebagian.

Saya belum tahu apa itu passion. Saya belum tahu apa itu cinta. Saya belum paham apa sih sebenernya hobi itu. Saya juga belum punya jawaban yang benar-benar saya mengerti kalo ada yang nanya cita-cita saya apa.

Cuma satu yang saya ingat dan saya tahu, nggak ada yang lebih menyenangkan dari duduk di depan TV dan nonton MTV seharian penuh atau duduk di samping papa yang lagi nyetir sambil dengerin kaset di mobil atau radio pilihan kakak-kakak saya.

Kecintaan saya pada musik dan media adalah hal yang tumbuh dengan sangat alami.

Di tahun 90-an, media di Indonesia masih sangat sedikit dan terkontrol tapi nggak tau kenapa saya ngerasa di masa itu media jauh lebih berkualitas.
Tayangan (program) masih sangat beragam. Iklan dan rating belum menjadi raja sepertinya.
Nggak ada keseragaman di media. Semua media punya ciri khas dan karakternya masing-masing.

Penonton atau pendengar atau pembaca diberikan kebebasan untuk memilih. Selain terhibur, kami juga teredukasi.

Faktor ini yang bikin saya jadi sangat sangat tertarik dan cinta dengan media dan musik.
Saya nggak bisa mainin alat musik tapi saya tau dan hafal lebih dari 1000 lagu dan klip yang ada di tahun 90an sampai sekarang.

Saya ingat sekali, dulu mama saya suka marah dan bilang "nonton TV terus! Nonton MTV terus! Kapan belajarnya? Nanti nilainya jelek mau jadi apa?"
Dengan polosnya dalam hati saya bilang "nanti kalo udah gede, gue bakal buktiin ke mama kalo dari hobi nonton TV bisa dapet uang".

Universe conspires is not a myth!

Saat ini saya bekerja di sebuah channel TV cable yang 24 jam memutarkan klip dalam dan luar negeri. Saya yang memilih klip-klipnya.
Nggak cuma itu, saya mulai karir saya dari dunia radio. Sebuah media yang paling saya suka.
Ada feel yang beda kalo denger lagu favorite diputerin di radio kesayangan, nggak peduli seberapa sering saya puter lagu itu di CD atau mp3 player atau HP atau bahkan youtube.
TV pun nggak bisa ngasih efek excitement yang sama kaya gitu. 

Kecintaan pada media dan musik sama besarnya.
Tapi kalo kata orang-orang "nggak baik kecintaan, ntar kecewa" mungkin ada benernya juga.

Setelah saya terjun ke industri ini, di bayangan saya, saya bisa bikin channel musik yang menyenangkan dan bisa bikin penonton saya suka dan inget segimana saya ngga bisa lupa sama MTV Indonesia di era 90an.

Terjadi?
Awalnya iya.
Tapi dengan perkembangannya saat ini, TV sudah pindah agama. Dari agama "memuaskan penonton" menjadi "apa kata rating".
Ya memang rating itu "katanya" gambaran nyata dari respond penonton tapi toh saya masih meragukannya.

Sedih sekali dengan semakin banyaknya media di Indonesia, baik elektronik maupun cetak, tapi bukan keberagaman yang ada malah justru keseragaman.

Satu radio memutarkan hits terbaik, semua mengikuti. 
Satu TV membuat acara joged, semua mengikuti.
Satu radio membuat konsep less talking, semua mengikuti.
Satu TV membuat program musik dengan host-host pelawak dan penonton bayaran, semua mengikuti.

"Karena ratingnya tinggi dan masyarakat sukanya yang begitu" kata mereka.

Saya sering berpikir "kalo semua radio jadi hits player, terus gimana bisa ada hits baru? Siapa yang akan ngasih kesempatan musisi berkualitas baru buat bisa besar seperti pendahulunya? Siapa yang akan jadi barometer hits makernya?"

Atau pikiran bahwa "kalo semua acara musik di TV menampilkan musisi yang seperti ini, apa benar ini bisa dikategorikan sebagai barometer musik? Gimana dengan musisi lain yang bagus-bagus sekali tapi katanya bukan selera masyarakat dari hasil survey?"

Ketika saya datangi sebuah event besar, musisi-musisi yang katanya bukan selera market TV tersebut kok punya banyak massa? Hampir setiap shownya selalu dipenuhi fans. Harga off air nya pun mahal.

Apa benar mereka nggak disukai masyarakat?

Sampai saya tiba pada satu pertanyaan "Masyarakat yang mana?"

Gimana caranya masyarakat teredukasi kalo semua yang mereka lihat di TV atau mereka dengar di radio cuma yang itu-itu saja?

Coba liat rombongan host (presenter) papan atas itu, hampir semua TV menjadikan mereka menu utama.

Kita nggak dikasih pilihan.

Ibarat kita pergi ke toko baju dan cuma dikasih satu jenis baju. Cuma dibedain warna sama size.
Kebayangkan jadinya kaya apa? Semua orang yang lalu lalang di Indonesia seragam, beda warna sama sizenya aja.

Saya kuliah di jurusan mass communications, gabungan dari broadcast dan jurnalistik. Saya percaya bahwa media seharusnya memberikan informasi, edukasi dan hiburan untuk masyarakat dari berbagai kalangan.

Masyarakat sendiri sangat luas dan dibagi menjadi beberapa kategori.
Kalo media hanya fokus di rating, maka yang ke-grab cuma mayoritas.
Banyak kategori market lain yang nggak ke-grab. Mereka bilang ini istilahnya side stream.

Saya stress bukan main ketika berusaha melawan arus ini.
Saya berprinsip "kalo semua orang suka cokelat, kenapa harus rebutan satu black forest yang bahkan kita belum tentu kebagian kalo di meja sebelahnya ada opera cake yang mungkin nggak terlalu populer tapi rasanya lebih enak dan cuma buat kita sendiri?"

Saya buktikan dengan membawa data yang baik serta result rating yang tinggi.
Ternyata masih banyak masyarakat di luar sana yang suka dengan tayangan TV yang berbeda.
Masih banyak masyarakat di luar sana yang bingung dengan statement "selera pasar ya begini".
Masih banyak masyarakat di luar sana yang berharap ada perubahan di industri media yang cenderung seragam ini.

Apakah berhasil sepenuhnya?
Tidak. 
Kenapa? 
Karena apa yang kami lakukan nggak kaya yang udah-udah.
Beda sama pendahulu kami yang ratingnya jauh lebih tinggi.
Kami nggak muterin lagu yang diputerin program musik lainnya.

Kami dianggap idealis karena menjadi hits maker di TV.

Sedih?
Pasti.
Tapi biar bagaimanapun, saya hanya bagian kecil dari kerajaan yang besar.
Bukan saya yang punya kuasa.
Saya cuma bisa berusaha membawa perubahan.

Pengen deh ngerasain lagi excitement nya nonton TV dan bilang "ANJRIT!!! Ada video klip ini!!!" 

Banyak radio yang masih setia jadi hits maker.

TV?

:)

Monday, December 9, 2013

Work | Talk | Walk

Hey there!

Don't i have things to write?
Actually, PLENTY!
I just don't post it.
Keep it in mind.

So you read the subject already.
Work
Talk
Walk

That probably best describe the way i live my life.

This couple years i learned a lot.

I've been working in a new office from May 2012.

It's my dream job.
My real dream profession.

Most people say "it's a terrific thing to do what you love and love what you do at the same time"

Is that true?
Not exactly.

Yes it's true that it's a happy thing to work for something that you really love.

But the thing is, as a human, we have to deal with other people.
People who might be an "obstacle" for your goals or ideas.

I'm kind of person who would do my job the best that i can.

I'm kind of person that would not cheat or do negative things to achieve my goals.

I was really in love with my job.
I was really focus on fixing things up.

Until so many things happened.

Those people who don't wanna be better.
Those negative mindset that ruined things.
Not from me.

I'm kind of person who choose to be in silence when everything goes wrong but do something to fix it up.

When you've been trying to fix things up for years and still no progress caused by those people who don't wanna be better, all you got is a frustration.

So when you had done all your works, time for you to talk what's on your mind.
Tell them what you've done and achieved.
Tell them what your solutions and goals.
Tell them how it should be.

When they don't change, time for you to walk out the door.

Walk with pride.
Walk with million better ideas inside your head for your next job.
Walk with faith that you can do better that what you did yesterday.

WALK WITH A VISION TO BE THE BEST OF YOU

Be Smart When You're in Love

Hi there!

It's been a long time since my last post.

There are lots lots lots of story and experiences i have.

Okay....................................what should we talk about right now?
Love? 

Yeah, i guess everybody loves this topic.

In this post i don't wanna talk just about my love life.
I wanna talk about love in a deeper sight.

So here's the story.

I've been through so many things which i have no time to write it down these couple months.

Have you heard about my last relationship?

Be glad if you haven't :)

It was the worst situation i have ever experienced.

I thought i was in love.
I thought for once in my life i should chase the person i love no matter how the situation is or what people say about it.

I was so sure and selfish until i was being totally subjective or so-people-called "blinded by love"

I'm not gonna tell the detail about it.
No..............
I don't wanna go there.
I'm over it.

I just take it as the best experience and lesson in my life.

As a person, we always love to be in love.

It feels like we could fly to the moon.
It feels like we could move a mountain.
It feels like everything is so colorful.

But what i observe, most of us are a fool when we were in love.

We would do anything to please the one we love.
We would do anything just to make the person we love stay.
We would do anything to make the person we love laugh.

Would they?

Your answer :)

Just make sure that we can be smart when we are in love.

Love ourselves first.

Instead of being focus on how to make him/her laugh, focus on how to make yourself laugh.
Instead of being focus on how to make him/her feels comfortable, focus on how to make yourself feels comfortable.
Instead of being focus on how to make him/her love you, focus on how to love yourself and make yourself lovable so that the person you love would love you just the way you are.

Don't lose yourself!
Be Smart When You're in Love

Too Busy Being Busy

Hi there!

Well i got to say that it's been a very long time since my last post, isn't it?

Just like what i wrote before, I WAS TOO BUSY BEING BUSY.

There's so many thoughts and stories i was dying to write and share but again, I WAS TOO BUSY BEING BUSY.

Kenapas sih Nobi? Kok ngulang-ngulang kata-kata itu terus?

Sering ngga sih, lo nemu orang yang udah lama susah diajak ketemu dan tiap ditanya jawabannya selalu "gue sibuk banget".

Admit it, most of us always think that being busy is cool.
It feels like we are important and have no time so that people would think that we are a very successful person or a very popular person.

Sibuk itu selalu di-relate dengan karir yang bagus atau kegiatan yang banyak atau bahkan terlalu banyak teman sampe-sampe kita susah banget buat bagi waktu ketemuan.

Berapa banyak dari kita yang waktu kecil ngerengek ke orang tua kita "Papa, aku mau main dong... Kita liburan..." dan dapet jawaban dari orang tua kita "Papa sibuk, Nak... Di kantor banyak kerjaan."

Atau berapa banyak yang pernah denger kata-kata "Wah dia susah banget kalo diajak ketemu atau kumpul-kumpul. Dia sibuk banget. Biasa, orang penting dia".

Waktu kecil, gue berpikir bahwa menjadi sibuk adalah bagian dari kesuksesan orang dewasa.
Sibuk adalah bagian dari menjadi kaya.
Sibuk adalah hal yang keren.
Kalo diajak main, gue pengen banget jadi orang yang bisa jawab "Sorry banget nih, gue ngga bisa ikut ya. Lagi sibuk banget nih".

I think that would be such a cool answer.

I am 25 years old now.
I have career and i have friends.

Do i still feel excited being busy?

Now let's talk about that! Hahaha...

Banyak hal yang kalo lo pikirin atau bayangin waktu lo beranjak dewasa bakal jadi hal yang keren atau menarik kalo lo begini atau kalo lo begitu.

Salah satunya dengan menjadi orang yang sibuk tadi itu.

Di perjalanan hidup gue yang lumayan flat ini, menjadi sibuk adalah satu hal yang membingungkan.
Di satu sisi, gue sering bersyukur dengan kesibukan ini karena ada beberapa hal yang ngga sempet gue pikirin karena kesibukan tadi. Di sisi lain, kesibukan juga bikin frustrasi atau stress.

I don't mind being busy if i were busy with my own business or problems.

Kenyataannya, ketika lo menjadi orang dewasa, hidup itu ngga sesimple yang lo jalanin waktu lo masih anak kecil atau remaja.

Nobi, initinya lo mau bilang apa sih?!!!

Hahahaha... terkesan muter-muter ya?

Jadi gini, gue bisa bilang banyak hal luar biasa yang terjadi di perjalanan hidup gue.
4 tahun yang lalu gue mungkin masih sosok orang yang cuma menghabiskan waktunya nongkrong di kampus dan magang.
Banyak waktu yang gue buang cuma untuk leyeh-leyeh atau nonton TV sampe nyokap teriak "Adek!!! Kamu nih ngga ada kerjaan banget sih! Nonton TV terus!!!"

At that time, gue pernah ngomong dalam hati "Ntar ya gue bakal buktiin ke nyokap kalo dari hobi gue nonton MTV bisa bikin gue ngehasilin uang!"

Tuhan dengerin omongan gue saat itu kayanya.

Hampir 2 tahun yang lalu, beberapa omongan gue yang tadinya gue pikir cuma sebatas angan-angan orang ngga punya kegiatan berubah jadi kenyataan.

Waktu gue masih SMP, kerjaan gue sama temen-temen gue selesai sekolah cuma nongkrong-nongkrong dan ngayal bisa kerja di radio dan ngatur-ngatur musik yang diputer di radio.
Pikiran simple kita cuma "enak kali ya bisa kerja ngatur-ngatur lagu, terus didenger orang deh!"

Di pikiran kita itu kerjaan ngga ada sibuk-sibuknya.


Sekarang, gue menjalani pekerjaan itu.
Santai? IYA TERKADANG!

Realitanya, sebuah pekerjaan dan tuntutan hidup itu berjalan beriringan.

Ketika lo menjalani sebuah pekerjaan, lo juga akan menjalani drama-dramanya.
Drama di kerjaan lo dan drama di hidup lo yang datang setiap hari.

Drama ini yang akan bikin lo sibuk.

Sibuk untuk belajar gimana cara cari solusi.
Sibuk untuk bertahan.
Sibuk untuk bersosialisasi supaya pekerjaan lo bisa kebantu dengan network lo.
Sibuk untuk beresin perasaaan lo.
Sibuk untuk cari waktu buat diri lo sendiri.

I am very busy being busy taking care of everything except my own business.

3 Bulan terakhir ini, gue berada di fase dimana gue menyadari bahwa waktu gue habis untuk sibuk ngeberesin banyak urusan.
Ironisnya, sebagian besar urusan itu adalah urusan orang lain.

Di pekerjaan yang sekarang gue jalani, gue baru bener-bener belajar kalo hidup itu ngga se-enteng "jalanin kerjaan sesuai passion lo dan semuanya akan terasa ringan".

Kebutuhan hidup di Jakarta sekarang ini bikin orang Jakarta harus bener-bener puter otak dan otot buat nutupin kebutuhan-kebutuhan itu.

Di pekerjaan gue yang sekarang, gue ketemu dengan banyak orang dengan berbagai karakternya.
Di pekerjaan gue yang sekarang, gue akuin secara finansial belom bisa mencukupi semuanya dan gue pun harus punya side job.

Di pekerjaan gue yang sekarang lah gue bener-bener berubah menjadi orang yang sibuk walaupun pekerjaan gue bukan kerjaan yang bikin sibuk.

Gue sibuk memilih teman.
Gue sibuk belajar memilih mana orang yang baik dan mana yang ngga baik.
Gue sibuk menguatkan diri gue untuk ngga ngelakuin hal-hal yang akan ngerugiin diri gue sendiri.
Gue sibuk berpolitik untuk menyenangkan semua pihak tapi juga ngga menjilat.

Gue sibuk menyelesaikan drama-drama di hidup temen-temen gue.
Gue sibuk menyelesaikan drama-drama di hidup orang yang gue sayang.

Gue sibuk untuk nyari waktu buat diri gue sendiri menyelesaikan masalah-masalah di hidup gue.

Can you imagine how it feels to be very busy taking care of all things until you don't have time to take care of yourself?

I was too busy listening to a friend's love life story.
I was too busy doing a useless person at the office's job.
I was too busy pleasing everybody around me to make them life easier.

Well, this is a part of my career and life journey.
I got to deal with it until i choose not to be what i am today.

Would i?

No. I would not :)