Saya beranjak dewasa dengan ketertarikan dan kecintaan saya pada musik dan media
Berapa banyak dari kalian yang lahir dan tumbuh di era TV cable belum bisa diakses semudah saat ini?
Berapa banyak dari kalian yang menikmati moment-moment me-rewind atau menekan tombol fast forward di radio hanya untuk mendengarkan lagu favorite kalian dari sebuah kaset?
Berapa banyak dari kalian yang merasakan excitement nonton MTV Indonesia cuma untuk mencari video klip band/boyband/girldband/soloist favorite kalian?
Berapa banyak dari kalian yang sampai saat ini masih nge-fans banget sama cara VJ Nadya Hutagalung, VJ Sarah Sechan dan VJ Jamie Aditya bawain program-program musik di MTV?
Kalo kalian senyum-senyum atau tiba-tiba bernostalgia setelah baca pertanyaan-pertanyaan di atas, i got to say, Guys, We are very lucky to be a part of 90's generation!
Di masa itu, stasiun TV nasional belum sebanyak sekarang.
Saya ingat sekali di masa itu hampir setiap selesai tayangan sebuah program, stasiun TV nasional akan memutarkan satu sampai dua klip musisi Indonesia.
Belum banyak iklan produk di masa itu.
Selain MTV yang tentunya menjadi sebuah channel yang mengubah hidup saya, dulu di RCTI saya adalah penggemar acara NUANSA MUSIK dan DELTA.
Program-program itu menjadi kamus berjalan saya untuk tahu klip-klip terbaru dan musik-musik berkualitas yang lagi jadi trend.
Orang tua saya pada saat itu tidak memasang parabola sehingga kami nggak bisa nikmatin channel TV international. Kalo mau nonton MTV luar, saya harus nginep di rumah bude saya.
Nggak tau kenapa, di masa itu rasanya nonton TV nasional pun udah cukup menyenangkan karena bisa tetep update lagu-lagu terbaru dari musisi dalam dan luar negeri.
Selain TV, dulu ada majalah HAI yang setia ngasih pembacanya hadiah kaset demo dari band-band berkualitas. KUBIK salah satunya waktu itu.
Radio pun belum sebanyak sekarang.
Di saat anak-anak lain seumur saya (SD kelas 3) pada saat itu lebih senang main sepeda, nonton Kring Kring Olala atau Lenong Bocah, saya lebih senang menghabiskan waktu saya nonton TV.
Di saat orang tua saya menjadwalkan saya untuk les ngaji atau tidur siang, saya memilih untuk duduk manis di depan TV dan melihat acara-acara musik.
Di saat anak-anak lain menyanyikan lagu Joshua Suherman, saya memilih untuk membuka kaset-kaset koleksi sepupu saya dan menghafalkan lirik lagu-lagu yang pada saat itu "katanya" lagu orang dewasa.
Di saat anak-anak lain berburu komik, saya memilih untuk mengajak papa saya pergi ke Duta Suara Sabang.
Di saat anak-anak lain sedih jika komiknya hilang, saya sedih sekali jika kaset yang saya beli, sampulnya terpotong bolongan untuk case kasetnya karena lirik lagunya jadi hilang sebagian.
Saya belum tahu apa itu passion. Saya belum tahu apa itu cinta. Saya belum paham apa sih sebenernya hobi itu. Saya juga belum punya jawaban yang benar-benar saya mengerti kalo ada yang nanya cita-cita saya apa.
Cuma satu yang saya ingat dan saya tahu, nggak ada yang lebih menyenangkan dari duduk di depan TV dan nonton MTV seharian penuh atau duduk di samping papa yang lagi nyetir sambil dengerin kaset di mobil atau radio pilihan kakak-kakak saya.
Kecintaan saya pada musik dan media adalah hal yang tumbuh dengan sangat alami.
Di tahun 90-an, media di Indonesia masih sangat sedikit dan terkontrol tapi nggak tau kenapa saya ngerasa di masa itu media jauh lebih berkualitas.
Tayangan (program) masih sangat beragam. Iklan dan rating belum menjadi raja sepertinya.
Nggak ada keseragaman di media. Semua media punya ciri khas dan karakternya masing-masing.
Penonton atau pendengar atau pembaca diberikan kebebasan untuk memilih. Selain terhibur, kami juga teredukasi.
Faktor ini yang bikin saya jadi sangat sangat tertarik dan cinta dengan media dan musik.
Saya nggak bisa mainin alat musik tapi saya tau dan hafal lebih dari 1000 lagu dan klip yang ada di tahun 90an sampai sekarang.
Saya ingat sekali, dulu mama saya suka marah dan bilang "nonton TV terus! Nonton MTV terus! Kapan belajarnya? Nanti nilainya jelek mau jadi apa?"
Dengan polosnya dalam hati saya bilang "nanti kalo udah gede, gue bakal buktiin ke mama kalo dari hobi nonton TV bisa dapet uang".
Universe conspires is not a myth!
Saat ini saya bekerja di sebuah channel TV cable yang 24 jam memutarkan klip dalam dan luar negeri. Saya yang memilih klip-klipnya.
Nggak cuma itu, saya mulai karir saya dari dunia radio. Sebuah media yang paling saya suka.
Ada feel yang beda kalo denger lagu favorite diputerin di radio kesayangan, nggak peduli seberapa sering saya puter lagu itu di CD atau mp3 player atau HP atau bahkan youtube.
TV pun nggak bisa ngasih efek excitement yang sama kaya gitu.
Kecintaan pada media dan musik sama besarnya.
Tapi kalo kata orang-orang "nggak baik kecintaan, ntar kecewa" mungkin ada benernya juga.
Setelah saya terjun ke industri ini, di bayangan saya, saya bisa bikin channel musik yang menyenangkan dan bisa bikin penonton saya suka dan inget segimana saya ngga bisa lupa sama MTV Indonesia di era 90an.
Terjadi?
Awalnya iya.
Tapi dengan perkembangannya saat ini, TV sudah pindah agama. Dari agama "memuaskan penonton" menjadi "apa kata rating".
Ya memang rating itu "katanya" gambaran nyata dari respond penonton tapi toh saya masih meragukannya.
Sedih sekali dengan semakin banyaknya media di Indonesia, baik elektronik maupun cetak, tapi bukan keberagaman yang ada malah justru keseragaman.
Satu radio memutarkan hits terbaik, semua mengikuti.
Satu TV membuat acara joged, semua mengikuti.
Satu radio membuat konsep less talking, semua mengikuti.
Satu TV membuat program musik dengan host-host pelawak dan penonton bayaran, semua mengikuti.
"Karena ratingnya tinggi dan masyarakat sukanya yang begitu" kata mereka.
Saya sering berpikir "kalo semua radio jadi hits player, terus gimana bisa ada hits baru? Siapa yang akan ngasih kesempatan musisi berkualitas baru buat bisa besar seperti pendahulunya? Siapa yang akan jadi barometer hits makernya?"
Atau pikiran bahwa "kalo semua acara musik di TV menampilkan musisi yang seperti ini, apa benar ini bisa dikategorikan sebagai barometer musik? Gimana dengan musisi lain yang bagus-bagus sekali tapi katanya bukan selera masyarakat dari hasil survey?"
Ketika saya datangi sebuah event besar, musisi-musisi yang katanya bukan selera market TV tersebut kok punya banyak massa? Hampir setiap shownya selalu dipenuhi fans. Harga off air nya pun mahal.
Apa benar mereka nggak disukai masyarakat?
Sampai saya tiba pada satu pertanyaan "Masyarakat yang mana?"
Gimana caranya masyarakat teredukasi kalo semua yang mereka lihat di TV atau mereka dengar di radio cuma yang itu-itu saja?
Coba liat rombongan host (presenter) papan atas itu, hampir semua TV menjadikan mereka menu utama.
Kita nggak dikasih pilihan.
Ibarat kita pergi ke toko baju dan cuma dikasih satu jenis baju. Cuma dibedain warna sama size.
Kebayangkan jadinya kaya apa? Semua orang yang lalu lalang di Indonesia seragam, beda warna sama sizenya aja.
Saya kuliah di jurusan mass communications, gabungan dari broadcast dan jurnalistik. Saya percaya bahwa media seharusnya memberikan informasi, edukasi dan hiburan untuk masyarakat dari berbagai kalangan.
Masyarakat sendiri sangat luas dan dibagi menjadi beberapa kategori.
Kalo media hanya fokus di rating, maka yang ke-grab cuma mayoritas.
Banyak kategori market lain yang nggak ke-grab. Mereka bilang ini istilahnya side stream.
Saya stress bukan main ketika berusaha melawan arus ini.
Saya berprinsip "kalo semua orang suka cokelat, kenapa harus rebutan satu black forest yang bahkan kita belum tentu kebagian kalo di meja sebelahnya ada opera cake yang mungkin nggak terlalu populer tapi rasanya lebih enak dan cuma buat kita sendiri?"
Saya buktikan dengan membawa data yang baik serta result rating yang tinggi.
Ternyata masih banyak masyarakat di luar sana yang suka dengan tayangan TV yang berbeda.
Masih banyak masyarakat di luar sana yang bingung dengan statement "selera pasar ya begini".
Masih banyak masyarakat di luar sana yang berharap ada perubahan di industri media yang cenderung seragam ini.
Apakah berhasil sepenuhnya?
Tidak.
Kenapa?
Karena apa yang kami lakukan nggak kaya yang udah-udah.
Beda sama pendahulu kami yang ratingnya jauh lebih tinggi.
Kami nggak muterin lagu yang diputerin program musik lainnya.
Kami dianggap idealis karena menjadi hits maker di TV.
Sedih?
Pasti.
Tapi biar bagaimanapun, saya hanya bagian kecil dari kerajaan yang besar.
Bukan saya yang punya kuasa.
Saya cuma bisa berusaha membawa perubahan.
Pengen deh ngerasain lagi excitement nya nonton TV dan bilang "ANJRIT!!! Ada video klip ini!!!"
Banyak radio yang masih setia jadi hits maker.
TV?
:)