Thursday, May 7, 2015

The Bridge is Falling

Judul ini diambil dari lagu sebuah duo musisi berkualitas yang bernama SOVA yang berkolaborasi sama Marcell Siahaan waktu itu.

Liriknya gini:
Do you realize the bridge is falling down
Yet them people just stare ain't doing right
You guys can try to help try to work it out
And all we have to do is just put a little hope

So have you ever felt like you're watching something is going to break down or falling down?
Have you ever felt like you have tried to help it out as much as you can?
Or maybe you are that one who were just staring and ain't doing nothing?

Whichever it is, i am not going to judge you.

Tapi akan sangat menyebalkan kalo yang terjadi adalah dimana kamu memulai membangun sesuatu dan kamu tau kamu melakukannya dengan sangat baik bahkan membuahkan sebuah hasil yang sangat signifikan, kemudian orang-orang di sekitar kamu yang tadinya hanya melihat dan tidak melakukan apapun tiba-tiba berebut untuk ikut dalam kegiatan tersebut dan bukannya membantu tapi malah menghancurkannya pelan-pelan.

That kind of shit happens in life.

Ketika kamu membangun sesuatu, kamu tau bukan cuma tenaga yang kamu curahkan di situ.
Ada harapan, impian, keringat, doa dan juga berbagai macam pahit dan manisnya proses.

Ibaratkan ada sebuah jembatan yang sangat berguna dan terlihat indah di dekat rumahmu.
Tempat kamu bermain.
Tempat kamu menyeberang untuk pergi ke tempat tujuan kamu.
Tempat kamu bertemu dengan teman-temanmu.
Tempat kamu bertemu dengan si dia pujaanmu.

Jembatan yang tanpa kamu sadari sudah jadi bagian dari kehidupanmu.

Jembatan itu sudah mulai rapuh.
Tidak ada yang melakukan apapun.
Hanya bisa mengeluh dan membetulkan jembatan itu seperlunya.
Hanya agar bisa mereka lewati sendiri.

Cuma kamu yang benar-benar mau melakukan sesuatu.
Cuma kamu yang membangunnya kembali dengan niat setulus hati.
Cuma kamu yang bisa menggerakkan teman-teman kamu untuk sedikit demi sedikit membetulkan bagian-bagian penting dari jembatan itu.

Proses itu kamu jalani dari mulai melakukannya sendiri sampai kamu dapat bantuan dari sana sini.
Bantuan dan rasa hormat yang datang dari orang-orang di luar lingkunganmu karena mereka tau apa yang sudah kamu lakukan untuk itu.

Sampai akhirnya jembatan itu sudah 85% indah dan berfungsi kembali.
Tinggal sedikit lagi hingga akhirnya jembatan itu menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tinggal sedikit lagi impian kamu terpenuhi.

Di saat itu pun mereka yang tadinya tidak peduli mulai masuk ke dalam mimpi-mimpimu.
Bukan untuk membuatnya jadi lebih indah.
Untuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang yang menaruh hormat padamu.
Untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Untuk gengsi.
Basi...

Kamu tetap berjuang untuk menyelesaikan 15% proses yang masih tersisa.
"15% lagi... I gotta do it!" katamu.
It's getting harder than you thought it would be.
Yes! Because those greedy people take over your place and think they know better than you and can do better than you.

Semua yang telah kamu bangun, seketika menjadi semua yang kita bangun.
Semua masalah yang belum terselesaikan, seketika menjadi semua masalah kamu yang mereka tidak mau tahu.
Sayangnya, banyak kejadian seperti ini dalam hidup.

So what should we do?
The bridge is falling down.
Are we going to do something?
Or are just going to leave the shit and move on?

Monday, March 30, 2015

Life is a Business

Hi There!

It always feels so good to write the "hi there" part :)
Coz it means i have time to write something on my blog.

No...
It doesn't mean i am that busy
It just means i am that lazy or (sadly) moody.

And yes...
Whenever i am not lazy or moody, that means i am working.

Capek juga ngga sih baca tulisan bahasa Inggris terus?
Bukan sok keren, tapi emang kadang bahasa Inggris lebih ngasih kesan menyenangkan atau simply lebih enak dibaca daripada bikin tulisan panjang yang ngga penting gini pake bahasa Indonesia.

Dan dalam hal kerjaan, semakin kesini semakin sering saya denger orang-orang lebih nyaman berkomunikasi dengan bahasa Inggris. 
Apalagi kalo nulis email resmi.
Coba deh tulis email formal pake bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, pasti enakan pereus pake bahasa Inggris.

Ngomongin kerjaan, mungkin saya adalah orang yang percaya atau se-ngga-nya berteori kalo hidup di Jakarta sekarang ini, semua aspek adalah bisnis.

Dari saya kecil, yaa ngga kecil amat sih... SMA lah...
Saya punya pandangan hidup kalo manusia itu berteman berdasarkan kebutuhan.
Banyak banget temen saya yang protes waktu saya ngomong gitu.
Biasalah... tipikal orang kita.
Belom jelas maksudnya apa, ngomel duluan aja yang penting.

Kenapa saya bisa mikir kaya gitu?
Entah kamu setuju atau ngga, itu pilihan kamu.
Tapi gini penjelasannya.
Kita pasti pernah belajar kalo dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial.
Makhluk yang ngga bisa hidup tanpa makhluk lain atau sesamanya.

Di jaman Nabi Adam turun sebagai manusia pertama, Beliau pun memohon kepada Allah SWT untuk diberikan pendamping atau teman hidupnya.
Bukti kalo manusia emang ngga bisa sendirian.

Kita juga pasti pernah diajarin kalo sebelum ada uang, manusia menuhin kebutuhan hidupnya dengan berburu kemudian masuk ke jaman barter.
Manusia yang satu butuh manusia lainnya untuk bisa saling barter.

Saya punya cuka, kamu punya mangga.
Sayanya suka, kamunya ngga.
*krik* *krik*

Saya punya teh dan garam tapi ngga punya gula. Kamu punya gula tapi ngga punya garam.
Saya barter garam saya sama gula yang kamu punya.
Saya dapet yang saya butuhin, kamu dapet yang kamu butuhin.

Tapikan kebutuhan ngga sebatas barang aja toh?
Waktu kamu berteman dekat dengan seseorang, pasti ada alasan kenapa kamu bisa dekat dan nyaman sama dia.
Entah karena kamu nyambung ngobrolnya atau dia bisa bikin kamu ketawa atau dia selalu ada pas kamu susah atau seneng.
Itu semua termasuk kategori kebutuhan kan?

Emang berteman itu ngga boleh pilih-pilih. 
True!
Tapi kalo levelnya udah temen deket pasti kamu pilih.
Ini maksud dari prinsip saya kalo pertemanan itu pasti karena kebutuhan.
Kebutuhan untuk berada di lingkungan sosial
Kebutuhan untuk diterima di lingkungan sosial
Kebutuhan untuk berada dalam satu kelompok
Kebutuhan untuk diterima dalam satu kelompok
Kebutuhan untuk ngobrol
Kebutuhan untuk membantu 
Kebutuhan untuk dibantu
Kebutuhan untuk bandel
Kebutuhan untuk jadi lebih baik
Kebutuhan untuk didenger
dan kebutuhan-kebutuhan lainnya

But in my case, it's a bit different.
Setelah 27 tahun saya ngejalanin hidup, saya baru sadar satu hal.
Saya memperlakukan hidup saya seperti sebuah bisnis.
Saya suka sekali berteman dengan siapa saja dari kalangan apa pun.
Kalo kamu kenal saya, kamu bisa liat saya lagi nongkrong dan ngerokok bareng satpam atau tukang parkir. 
Besoknya kamu bisa liat saya lagi di cafe sama pemilik sebuah cafe di Jakarta.
So basically, I love everybody!
Tapi.........
Temen deket saya cuma itu-itu aja

Dengan kenal sama banyak orang dan berteman dengan mereka, saya jadi ada di situasi yang cukup unik.
Di hidup saya, ketika saya butuh apapun atau temen saya nyari apapun, saya bisa refer satu orang ke orang lain sehingga tercipta lah bisnis.

Tanpa saya sadari hidup saya adalah bisnis saya.
Kakak saya mau buka barbershop, dia cari saya.
Saya punya kenalan seorang barberman terkenal di Jakarta.
Saya kenalin dan jadilah barbershop itu.
Temen saya dapet uang, kakak saya dapet bisnis baru.

Temen saya yang lainnya lagi cari orang buat ngurusin account instagram bisnisnya.
Dia ngga begitu paham social media.
Dia cari saya, nanya saya.
Saya rekomen sahabat saya.
Cocok lah mereka.
Terjadilah bisnis.

Kalo kamu masih kuliah atau sekolah, selain kamu harus serius nyari ilmu kamu juga harus rajin main dan kenalan sama banyak orang.
Inget ya.. Cari ilmu bukan cari nilai.
Karena nanti kalo udah masuk dunia kerja, kemampuan kamu nyerap ilmu dan nyari celah ngadepin masalah itu yang kepake. Bukan nilai kamu.
Kenapa harus rajin main?
Percaya deh.
Sekarang ini di Jakarta, yang berlaku adalah rekomendasi.
Cari kerja yang bagus dan kesempatan buat diterima di kantor yang menyenangkan itu kuncinya ada di orang dalem.

Banyak HR atau perusahaan yang lebih nyaman ngambil orang yang mereka udah tau atau paling ngga, direkomendasiin sama orang dalem perusahaan itu.

It happens to me
It happens to people around me
It happens most of the time

So, in Jakarta life is indeed a business